Dokter, profesi dengan gaya hidup paling tidak sehat

Banyak orang yang mengira jadi dokter itu enak. Kaya, terpandang, smart, dan sehat.

Mungkin kaya bisa dimaklumi karena memang jumlah orang yang sakit akan terus meningkat sehingga kebutuhan atas tenaga kesehatan akan terus meningkat. Apalagi dokter dengan spesialisasi atau spesifikasi tertentu akan memiliki pelanggan yang cukup banyak sehingga pundi-pundinya pun semakin banyak. Dokter monopolistik di suatu daerah yang tidak terlalu ramai atau jauh dari pusat kota juga dapat dengan mudah menjadi kaya. Banyaklah cara untuk membuat dokter menjadi makhluk yang lebih kaya dari makhluk pada umumnya.

Status yang lebih tinggi di masyarakat, dengan berbagai privilege dan bebannya, juga mudah melekat pada sosok seorang dokter. Seringkali dokter memiliki jabatan maupun kedudukan mentereng di organisasi-organisasi kemasyarakatan, keagamaan, maupun sekedar di lingkungan tempat tinggalnya.

Nilai lebih yang diberikan kepada dokter salah satunya karena dianggap bahwa kuliah kedokteran itu membutuhkan otak yang encer, belajar banyak hal, menghapal banyak hal, melakukan hal-hal yang tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang (membedah mayat, menolong persalinan, berurusan dengan darah, dan sebagainya). Ada kesan bahwa dokter adalah orang yang cerdas karena saringan masuknya amat ketat, atau setidaknya setelah orang menjalani kuliah kedokteran (setelah dapat kesempatan berkuliah meskipun tidak terlalu cerdas) dan akibat tuntutan masyarakat (dan dosen) bahwa dokter itu smart maka akan terciptalah dokter yang dipaksa smart atau setidaknya pura-pura cerdas atau cerdas temporer untuk dapat lulus dan dilantik menjadi seorang dokter.

Tuntutan yang terberat adalah tetap menjaga kesehatan di dalam suatu proses terus menerus yang disebut gaya hidup yang tidak sehat. Siapa bilang dokter memiliki gaya hidup yang sehat. Mungkin banyak dokter yang tahu cara hidup sehat, tapi urusan melakukannya adalah urusan yang jauh berbeda. Tak sedikit dokter yang harus rela menanggung hinaan, cercaan, dan sindiran bila sang dokter jatuh sakit ataupun mati muda. Dokter juga manusia (punya rasa, punya hati), jangan samakan dengan pisau belati, he4x. Bila terus menerus dalam gaya hidup tidak sehat, siapapun juga akan mudah jatuh sakit bahkan mati muda.
Banyak dari gaya hidup tidak sehat seorang dokter dimulai dan dalam porsi terbesar dijalani pada masa pendidikannya. Ya, masa perkuliahan dan praktek sebagai dokter muda adalah awal dari ilmu merelakan kesehatan sendiri demi kesehatan orang lain (atau demi uang, prestige, atau hal lainnya). Secara garis besar gaya hidup tidak sehat dari seorang (calon) dokter antara lain: kontak dengan banyak bibit penyakit, tidur dan istirahat yang tidak teratur dan kurang, stres berkepanjangan, pola makan yang tidak teratur dan kurang memperhitungkan gizi seimbang, kurang berolahraga, kurang dekat dengan Tuhan, dan tujuan hidup yang tidak jelas. Penjabaran dari masing-masing poin beserta argumennya dan juga hal-hal terkait akan mengisi banyak postingan berikutnya di blog ini.
31:01:08

0 komentar:

Poskan Komentar